SMP Negeri 5 Sidoarjo

Mitos Candi Jawa

  • PDF
“Ya ampun, nggak bakalan deh Bun kejadian kayak gitu!Eh ya udah ya Bun, Lani pergi dulu!” kata Lani sembari mengecup pipi bundanya.”Daag Bunda!”
“Hati-hati lho, Lan,” pesannya,”nak Doni titip Lani ya!”
“Iya Bu, tenang saja Lani bakal saya jaga bener-bener!’
Bu Priyo hanya bisa geleng kepala melihat tingkah anak serta pacarnya itu. Pergi berwisata ke Jogja naik mobil sendirian bersama pacarnya. Tapi, ada hal lain yang membuatnya lebih khawatir, kepergian mereka ke Candi Prambanan.

Tiba-tiba lamunan Bu Priyo terpecah ketika mendengar anak keduanya muncul lalu bertanya, “Bunda lagi ngapain sih? Lagi nglamun ya?”
“Ah nggak kok Lun, Bunda cuma lagi khawatir sama kakakmu itu, mosok pergi ke Jogja kok ndak naik kendaraan umum aja. Bunda lebih merasa khawatir kalau Mbakmu pergi sama Mas Doni, naik mobil pribadi pula! Kalau nanti ada apa-apa sama Mbakmu gimana?” Luna tertawa kecil mendengar penjelasan dari Bundanya, “Bunda.....Bunda .......masa orang pergi sama pacarnya sendiri aja kok dikhawatirin?Bunda nih terlalu paranoid deh! Lagipula kalo Luna lihat, Mas Doni itu bukan tipe orang seperti yang Bunda kirain.” Jawab Luna sok tahu.

”Eh Lun kamu pernah denger soal mitos tentang candi nggak? Itu lho yang katanya kalau pacaran di candi hubungannya nggak bisa awet? Pernah nggak?”
“Hah? Memangnya ada ya mitos kayak gitu, kok Luna belum pernah denger? Emang kenapa sih Bunda tanya-tanya hal yang nggak seberapa penting kayak gitu?”
“Nggak, Bunda cuma khawatir kalau nanti Mbakmu beneran nekat pergi ke Candi Prambanan sama Mas Doni, Bunda nggak terlalu suka! Bisa bahaya!”
“Bunda, Bunda bisa nggak sih bersikap sedikit santai soal kepergian Mbak Lani ke Jogja? Ini diprotes, itu dikhawatirin, biarin dong Bun, lagian kan Mbak Lani sudah besar, seharusnya tahu mana yang bahaya dan nggak berbahaya! Bunda itu perlu belajar nggak usah terlalu memedulikan mitos-mitos kuno kayak yang Bunda barusan bilang! Coba deh Bunda pikir, apa coba bahaya yang bisa ditemui di sebuah candi? Nggak ada Bunda! Udah ya Bunda tenang sebentar dong, kalo emang ada apa-apa toh Bunda juga sudah ngasih tahu.”
“Ndhuk, coba dengerin Bunda, katanya nanti orang-orang yang pacaran di candi hubungannya itu nggak bakalan awet, kan sayang kalau itu terjadi pada Mbakmu dan Mas Doni! tapi kalau kamu ndak percaya sih, ya sudah!” kata Bu Priyo sembari melangkahkan kakinya menuju ke dalam rumah dan meninggalkan Luna sendirian di beranda.


Esok Harinya di Prambanan.....

“Lan, akhirnya kita sampai juga ya di Candi Prambanan! Aku udah nggak sabar deh foto-foto bareng sama kamu di candinya nanti!”
“Iya nih, Don, aku juga udah nggak sabar banget buat foto-foto di sini!” sahut Lani gembira. Saat mereka resmi pacaran, tempat pertama yang ingin mereka kunjungi saat ulang tahun ‘jadian’ mereka ya di Candi Prambanan.

Banyak foto yang telah berhasil mereka jepret di sana. Mulai dari jalan mau memasuki pelataran Candi, sampai sewaktu di pasar barang kesenian. Namun sesampainya mereka di depan candi, timbul suatu pertanyaan dari hati Lani, “Eh Don, kamu percaya nggak sama apa yang dibilang Bunda sehari sebelum kita pergi itu?”
“Oo....yang tentang mitos itu? Um.....gimana ya? Nggak sih kalau menurut aku tergantung iman, dan kesetiaan kita ke pasangan kitanya dong, kalau iman kita lemah, ya pasti bakalan gampang digoda dong! Terus sama juga halnya dengan kesetiaan kita, kalau emang pada dasarnya nggak setia, ya udah, tinggal nunggu aja kapan putusnya! Laipula kalau emang terjadi, aku bakalan kasih hubungan kita formalin, biar tetep awet, gitu” canda Doni. “Aa.....nggak lucu deh, Don!” jawab Lani sembari mendorong pelan badan besar Doni. “Ouch.....sakit tahu!” rintih Doni sambil setengah meringis menahan sakit.

“Di sini terletak candi induk yang berisi patung Dewa Çiwa. Dewa Çiwa sendiri merupakan Dewa penghancur bumi, menurut agama Hindu. Lalu yang di sisi kiri dan kanan candi induk merupakan candi apit. Setiap candi induk di sini pasti memiliki sepasang candi apit. Ok, mungkin ada sesuatu hal yang mungkin ingin Anda tanyakan, silakan saya tunggu!” tawar sang guide pada segerombolan turis dalam negeri yang beberapa di antaranya sedang melihat-lihat bangunan luar candi, sedang yang lain sedang asyik mengabadikan foto-foto candi lewat kamera mereka masing-masing. Sementara yang lain sedang sibuk, Doni memberanikan diri untuk bertanya, “Permisi, Pak saya mau bertanya, apakah mitos orang yang berpacaran di candi hubungannya tidak akan langgeng itu benar-benar ada? Lalu kalau memang benar adanya, bisa bapak ceritakan sedikit?”
Semua orang sekarang mengalihkan pandangan dan konsentrasi mereka pada sang guide yang rupa-rupanya sedikit kaget dengan pertanyaan yang diajukan Doni.
“Hmm......anak muda, pertanyaan yang bagus itu tadi! Begini, sebenarnya di tanah Jawa , terutama pada kalangan orang tua-tua, mitos tersebut menjadi sebuah kepercayaan yang sangat kuat mengakar, apalagi di daerah sekitar candi. Tetapi, saya tidak mengetahui secara pasti apakah mitos itu benar adanya, karena kedua orangtua saya percaya bahwa mitos itu benar-benar ada, sedangkan menurut orang-orang lain mitos itu hanya omong kosong belaka. Tetapi, terserah Anda semua. Anda boleh percaya, boleh juga tidak percaya, karena itu hanyalah sebuah mitos.

“Tapi kan Bapak orang sini, bapak percaya tidak akan hal itu, lalu bagaimana cerita dibalik mitos itu?” sekarang ganti Lani yang mengajukan pertanyaan yang tadinya dia anggap bodoh itu.
“Ha.....ha.....ha,” si Bapak tertawa kecil,”kalau Anda bertanya demikian, ya jawaban saya adalah iya, saya percaya. E.....kalau menurut orang tua saya, candi itu tidak pantas untuk dijadikan tempat orang berpacaran, karena nantinya para danyang atau penunggu candi akan marah, sebab mereka merasa bahwa orang berpacaran akan membuat candi menjadi ‘kotor’, maka dari itu, lain kali ajaklah teman atau keluarga Anda saja,” nasihat sang guide. Namun setelah mengatakan hal tadi, raut muka guide tersebut langsung berubah menegang, seakan dia telah menyembunyikan sesuatu hal yang ganjil dari para peserta tour. “Baik, keliatannya seluruh kompleks candi telah kita kunjungi, maka dari itu berakhir pula perjumpaan kita di sini. Saya memohon maaf sebesar-besarnya bila dalam tour kali ini saya melakukan kesalahan, baik yang saya sengaja, maupun yang saya tidak sengaja, jadi sampai jumpa di lain kesempatan.” Akhirnya pada pukul dua siang tour yang mereka berdua jalani berakhir sudah.rombongan turis yang tadi mengikuti tour berhamburan pergi entah ke mana, termasuk juga Lani dan Doni.

Setelah meninggalkan pelataran candi, mereka berdua menyempatkan untuk duduk sebentar di sebuah bangku taman yang disediakan di situ. “Don, aku haus nih, beli minum, yuk!” ajak Lani.”Oo...kamu haus?!aku juga kok! Um.....gimana kalau aku beliin kamu minum aja.kamu tunggu di sini ya, Lan! Jangan ke mana-mana lho!”
”Beres bos! Aku bakal tetep di sini kok! Eh tapi jangan lama-lama ya!” pesan Lani. Namun, Lani tidak akan pernah mengira bahwa mitos kuno itu akan terjadi pada mereka sebentar lagi.......

Doni sudah berjalan cukup jauh sebeum dia akhirnya menemukan sebuah kedai minuman. ’Akhirnya, ketemu juga!’ katanya dalam hati. ”Pak pesan jus jeruknya dua ya. Dibawa pulang!”
”Baik, mas!” jawab sang pelayan ramah. Doni lalu mengambil tempat duduk tak jauh dari kasir tempat ia memesan minuman. Tak disangka, seorang perempuan seusia Doni menghampiri mejanya, lalu duduk tepat di hadapan Doni. Doni memasang tampang cuek dengan kehadiran perempuan tadi.
”Hai!” sapa si perempuan terlebih dulu.

” Hai juga!” sapa Doni dengan nada sedikit masa bodoh. Tapi ada sebuah kilatan di mata perempuan itu yang membuatnya ingin selalu menatap matanya.
”Lara,” katanya sembari mengulurkan tangan. Jari-jarinya yang lentik dan mungil tenggelam dalam tangan Doni saat Doni menyambut jabatan tangan tadi. ”Em....e..... nama saya Doni,” Doni memperkenalkan dirinya dengan canggung. ”Oiya kalau nggak salah, kamu ya yang tadi tanya tentang mitos candi Lara Jonggrang?” tanay Lara.

”Lho kok kamu bisa tahu? Kamu satu rombongan tour ya sama aku?”
”Yup, bener banget! Eh, kenapa sih kok kamu tanya tentang mitos itu, padahal sepengatahuan aku nih, mitos itu sekarang udah banyak yang nggak tahu, tapi kok kamu masih bisa tahu sih?”
”Kalo soal itu sih, aku tahunya dari bundanya pacarku! Jadi secara kebetulan, bukan aku sendiri yang langsung tahu!” perempuan tadi langsung berkata,” O....gitu ya?”
Akhirnya dalam setengah jam mereka berdua bercengkrama tanpa seorang pun yang mengganggu. Andai saja sang pelayan tidak memanggil nama pemesan 2 es jeruk, kemungkinan percakapan tadi masih bisa berlanjut lebih lama lagi. ”Ups....kelihatannya pesananku sudah datang deh. Ya udah kalau gitu, duluan ya, em.......”
”Lara!” kata wanita itu mengingatkan. ”Eh iya, duluan ya Lara!”
Dalam perjalanan, Doni serasa tak rela meninggalkan Lara sendirian di sana. Ada aura yang membuatnya betah untuk berlama-lama dengannya.’Buset, si Lara itu cantik juga ya, bahkan kalau dibandingkan sama Lani masih jauh lebih cantik Lara, tapi kok aku jadi berpikiran kayak gini ya? Ah tapi mungkin besok juga udah hilang pikiran ngelantur tadi!’ seru Doni dalam hati.


Esoknya......

”Lan kamu masih marah gara-gara kemarin aku beli minum kelamaan?” tanya Doni dengan nada penuh sesal. ”Bukan cuma gara-gara itu aja aku marah! Coba ya kamu bayangkan gimana rasanya orang yang kamu ajak bicara nggak memedulikan kamu sama sekali? Nggak enak kan? Nah itu yang terjadi sama aku kemaren. Tahu nggak sih kamu, kalau selama perjalanan pulang dari Prambanan itu aku jadi kayak ngomong sama tembok! Kamu ini senbenarnya kenapa sih, Don?” tanya Lani penuh selidik.

”Ya maaf kalau aku kemarin nggak meduliin kamu, tapi sumpah kemarin itu aku rasanya caaapeek banget. Jadi maaf ya sayang kalau aku kemarin nyuekin kamu! Um.....gimana kalau kita sekarang jalan-jalan ke Malioboro aja? Kan sekalian kita udah bawa mobil!”
”Ah terserah kamu deh!” jawab Lani masih dengan menyisakan sedikit nada kesal.

Namun dalam perjalanan menuju perjalanan, kedua penumpang ini sama-sama diam seribu atau bahkan seratus ribu bahasa. Mobil mereka diliputi oleh suasana yang sangat sunyi. Hanya suara mesin mobil, dan radio dalam mobil saja yang menjadi satu-satunya tanda bahwa kehidupan masih berdenyut di sana. ” Lan, besok kita pulang, yuk! Aku sudah kangen nih sama Lara, eh......Surabaya!” ajak Doni
”Sebentar deh Don, tadi siapa yang kamu bilang? Lara? Siapa itu Lara?” tanya Lani curiga. “E...e...e....enggak kok, aku tadi Cuma bilang kalau aku udah kangen sama Surabaya” elak Doni. Dia sadar dia telah melakukan kesalahan yang besar. Mengucapkan nama perempuan yang baru saja dikenalnya di depan Lani, pacarnya yang pencemburu.
“Nggak ah, kamu tadi bilang kalau ka......”
“Udah deh Lan, aku tadi Cuma bilang kalau aku kangen sama Surabaya!” kata Doni sedikit menyentak, ”dan tolong ya, aku ini sudah bosan sama sikap bawel dan pencemburu kamu yang sudah keterlaluan itu! Kita balik aja ke Surabaya sekarang!” amarah Doni memuncak. Dia seperti sudah kehilanagan kontrol atas dirinya. Lani sendiri hanya bisa menangis sambil membuang tatapannya ke arah jalanan. Jalanan yang rasa-rasanya akan menghantarkan dia ke neraka terdalam.....


Di Surabaya.......

“Hu.....hu......hu....hiks.....hiks......Doni jahat! Masa habis pulang liburan kita malah putus. Dia kejam deh, Bunda!” curhat Lani pada Bundanya. Bu Priyo mengelus-elus rambut panjang dan lurus Lani sambil berkata, ”Ya sudah tho, Ndhuk! Kalau Doni tiba-tiba memutuskan hubungannya dengan kamu, itu ya salah kamu sendiri. Ibu kan sudah bilang, jangan ke Prambanan kalau kamu pergi sama Doni, eh.....kamunya tetep aja berangkat ke sana! Ya sudah kejadian mau diapakan lagi. Coba kalau kamu waktu itu patuh sama Bunda, kan nggak bakal kayak begini jadinya. Coba kamu ingat-ingat 3 hari yang lalu.......”
”Lan, kalau memang rencana pergi ke Prambanan mbok ya jangan bareng sama Doni, di sana itu bukan tempat yang baik untuk pacaran. Bisa nggak langgeng lho hubungan kalian!” seru Bu Priyo mengingatkan. ”Tenang deh, Bun! Kita nggak bakalan macam-macam kok di sana!” bantah Lani. “Iya tapi kan......” perkataan Bu Priyo terlanjur dipotong oleh anak pertamanya itu, “ Y ampun, Bun! Nggak bakalan deh kejadian kayak gitu......”
Pikiran Lani tiba-tiba teringat peristiwa 3 hari yang lalu. Saat dia membantah nasihat yang telah diberikan oleh Bundanya dan lebih memilih untuk bersenang-senang bersama Doni di Candi Prambanan. ”Iya ya Bun. Senadainya saja aku mau nurutin Bunda kan nggak kayak gini akhirnya!”
”Nah itu sudah ingat! Dengerin ya Lan, putusnya kamu dari Doni, bukan hanya karena mitos itu saja, tetapi itu jug adalah hukuman bagi kamu karena kamu tidak mau menuruti nasihat Bundamu sendiri” titah Bu Priyo.
”Iya Bun.....Hiks.....Lani minta maaf, karena Lani udah berani nggak patuh sama Bunda! Lani minta maaf ya?!”


Di Prambanan......

Sepasang muda-mudi sedang erat bergandengan sembari menikmati matahari tenggelam di Prambanan tanpa tahu mitos kuno yang sedang mengintai mereka.........


Oleh: Gabriella Vincentia C
You are here Artikel Cerpen Mitos Candi Jawa